Pakar Soroti Gempa Ende 7,7 M: Mekanismenya Thrust Fault, Mirip Gempa Besar Lombok

Daftar Isi

 


Mataram, NTBZONE.COM — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian para pakar kegempaan. Salah satunya, Didik Widjaya, yang menyoroti mekanisme gempa tersebut serta pentingnya memantau gempa-gempa kecil yang muncul sebelum gempa utama.

Menurut Didik, gempa Ende memiliki mekanisme gempa dangkal dengan pergerakan lempeng naik atau thrust fault. Mekanisme tersebut dinilai memiliki karakter yang serupa dengan mekanisme gempa besar yang pernah terjadi di Lombok.

Hal yang menarik perhatian, kata Didik, adalah kemunculan foreshock atau gempa pendahuluan dalam beberapa hari sebelum gempa utama. Gempa-gempa kecil tersebut menjadi bagian penting dalam pemantauan aktivitas kegempaan.

"13 hari sudah muncul foreshock-nya kecil. Akhirnya tadi muncul mainshock-nya 1.000 kali lebih kuat," ujar Didik dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, perbedaan kekuatan antara gempa kecil dan gempa utama tidak dapat dilihat hanya dari angka magnitudonya. Skala magnitudo bersifat logaritmik, sehingga kenaikan magnitudo beberapa angka saja dapat berarti pelepasan energi yang jauh lebih besar.

Menurutnya, kemunculan gempa-gempa kecil sebelum gempa utama menjadi pengingat bahwa aktivitas kegempaan perlu terus dipantau dan tidak boleh dianggap sepele.

"Itulah manfaat monitor gempa kecil, peringatan bukan untuk diabaikan. Gempa besar tak muncul tiba-tiba," tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menekankan pentingnya sistem pemantauan gempa bumi secara berkelanjutan. Data gempa kecil atau aktivitas seismik dapat menjadi informasi penting bagi para ahli untuk memahami perubahan aktivitas pada suatu zona sesar atau batas lempeng.

Meski demikian, kemunculan foreshock tidak selalu berarti akan disusul gempa besar. Identifikasi apakah sebuah gempa merupakan foreshock baru dapat diketahui setelah terjadi gempa yang lebih besar.

Kasus gempa Ende kembali menunjukkan bahwa wilayah Indonesia, yang berada pada pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif, memiliki potensi kegempaan yang tinggi. Karena itu, pemantauan aktivitas seismik, edukasi kebencanaan, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko ketika gempa besar terjadi