Lombok Timur, NTBZONE.COM – Tim periset MoRA The AIR Funds UIN Mataram menggelar sosialisasi Tata Kelola Quran Smart Learning (QSL) di Pondok Pesantren Irsyadul Ummah NW Kuang Derek, Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Senin (20/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan pondok, jajaran pengurus, serta para ustaz dan ustazah.
Sosialisasi ini bertujuan memperkenalkan model pembelajaran baru yang dirancang untuk mengoptimalkan proses belajar bahasa Arab dan Al-Quran secara lebih terstruktur, sistematis, serta memanfaatkan pendekatan berbasis teknologi.
Program QSL merupakan bagian dari pengembangan tata kelola pembelajaran bahasa Arab berbasis Al-Quran yang mengintegrasikan tradisi kepesantrenan dengan metode pembelajaran modern. Melalui pendekatan ini, santri diharapkan lebih mudah memahami kandungan Al-Quran dan literatur Islam tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren.
Ketua tim periset sekaligus Guru Besar UIN Mataram,Prof. Dr. H. Ahmad Amir Aziz, M.Ag, menjelaskan bahwa lahirnya model QSL berangkat dari fenomena lamanya waktu yang dibutuhkan santri dalam menguasai bahasa Arab karena pembelajaran selama ini terlalu berfokus pada ilmu gramatika.
"Studi awal kami menunjukkan bahwa ada pendekatan yang lebih efektif untuk mempercepat penguasaan bahasa Arab, yakni dengan langsung berinteraksi melalui ayat-ayat Al-Quran," ujarnya.
Menurutnya, metode tersebut memungkinkan peserta didik lebih cepat memahami makna dan pesan Al-Quran. Ia menambahkan, para ulama besar seperti Ibnu Sina sejak awal menjadikan Al-Quran sebagai bacaan, hafalan, kajian, sekaligus bahan perenungan sebelum mendalami berbagai disiplin ilmu lainnya.
Sementara itu, anggota tim periset, Dr. M. Firdaus, M.S.I, memaparkan tahapan implementasi QSL. Pada level pertama, pembelajaran difokuskan pada kompetensi leksikal, yakni penguasaan kosa kata, penghitungan jumlah kata, serta penerjemahan ayat-ayat Al-Quran secara baik dan benar.
Sebagai materi awal, peserta akan mempelajari sekitar 60 hingga 70 ayat pertama Surah Al-Baqarah. Menurutnya, ketika santri telah memiliki "sense" terhadap bahasa Al-Quran, mereka akan lebih mudah memahami isi kandungannya.
Pimpinan Pondok Pesantren Irsyadul Ummah NW, TGH. Lutfi Arsyad, S.Hi., M.Sy, menyampaikan apresiasi atas hadirnya program tersebut. Ia menyatakan komitmen pondok untuk mendukung penuh implementasi QSL, bahkan siap menjadikan pesantren yang dipimpinnya sebagai laboratorium penerapan metode tersebut.
"Kami berharap program ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Quran sekaligus menjadi inovasi yang membawa manfaat bagi para santri," ungkapnya.
Dalam forum sosialisasi itu juga disepakati bahwa metode QSL akan segera diterapkan secara intensif di lingkungan pesantren. Pihak pondok akan membentuk tim pelaksana yang terdiri dari ketua, tutor, dan admin untuk mengikuti pelatihan (coaching) di Mataram pada akhir Juli 2026.
Dengan pelatihan tersebut, implementasi program ditargetkan mulai berjalan pada awal Agustus 2026. Apabila berhasil diterapkan, QSL diharapkan tidak hanya menjadi identitas baru bagi Pondok Pesantren Irsyadul Ummah NW, tetapi juga menjadi model pembelajaran Al-Quran yang inovatif, adaptif, dan dapat dikembangkan di berbagai pesantren lainnya.

Social Header