Lombok Timur, NTBZONE.COM – Aktivitas kegempaan di wilayah selatan hingga timur Indonesia dilaporkan masih sangat ramai. Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah Selat Lombok, yang dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan signifikan gempa bumi dangkal berskala kecil.
Hingga 8 Januari 2026, tercatat 209 kejadian gempa dangkal di kawasan Selat Lombok hanya dalam kurun waktu empat hari terakhir. Lonjakan ini menunjukkan perubahan aktivitas seismik yang cukup mendadak dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Pakar kegempaan Didik Wijdaya menjelaskan bahwa gempa-gempa dangkal dengan magnitudo kecil umumnya berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di sekitar wilayah tersebut. Meski sebagian besar tidak dirasakan masyarakat, frekuensi yang tinggi tetap perlu mendapat perhatian serius.
“Peningkatan jumlah gempa kecil dalam waktu singkat menunjukkan adanya dinamika stres di kerak bumi. Ini bukan berarti pasti akan terjadi gempa besar, tetapi kondisi ini perlu kewaspadaan dan pemantauan ketat,” jelas Didik.
Senada dengan itu, pakar kegempaan Pasek Made menyebutkan bahwa warga Bali dan Lombok dalam dua hari terakhir, yakni 6–7 Januari 2026, merasakan frekuensi gempa yang lebih sering dari biasanya.
“BMKG mengidentifikasi rangkaian gempa ini sebagai aktivitas Gempa Swarm. Hingga pukul 22.00 WITA, jumlah kejadian sudah lebih dari 60 kali,” ungkap Pasek Made.
BMKG menjelaskan bahwa Gempa Swarm berbeda dengan pola gempa pada umumnya. Jika gempa biasa memiliki satu gempa utama (mainshock) yang besar dan diikuti gempa susulan, maka gempa swarm merupakan rangkaian gempa dengan magnitudo relatif kecil, terjadi berulang dalam waktu berdekatan, dan tanpa satu gempa utama yang dominan.
Wilayah Selat Lombok sendiri memang dikenal sebagai zona tektonik aktif, karena dipengaruhi oleh zona subduksi di selatan Pulau Lombok serta keberadaan sistem sesar aktif di kawasan Bali–Nusa Tenggara.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, tidak mudah terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD. Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah pesisir.
Aktivitas kegempaan ini masih terus dipantau guna mengantisipasi kemungkinan perkembangan selanjutnya.

Social Header