Lombok Timur, NTBZONE.COM – Fenomena maraknya content creator di berbagai platform media sosial semakin hari kian berkembang. Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul persoalan serius: masih banyak kreator yang belum memahami fungsi, etika, dan dampak dari konten yang mereka sebarkan.
Alih-alih menghadirkan karya kreatif, edukatif, dan menghibur, sebagian content creator justru lebih memilih memviralkan hal-hal negatif. Mulai dari pertengkaran, perundungan, pelanggaran hukum, hingga perilaku tidak pantas kerap diangkat demi menarik perhatian publik.
Pakar komunikasi menilai, kondisi ini disebabkan rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat, termasuk para kreator. “Media sosial bukan sekadar tempat mencari popularitas, tetapi juga ruang publik yang harus dijaga dengan bijak. Jika yang ditonjolkan hal-hal negatif, dampaknya bisa merusak tatanan sosial,” ujar Ahyar salah seorang pengamat medsos di NTB.
Tak jarang, konten-konten viral yang berbau sensasional justru memicu konflik di dunia nyata. Kasus saling hina antar warga, aksi kekerasan yang direkam, hingga penyebaran isu hoaks, semakin memperlihatkan kurangnya kesadaran etika digital.
Di sisi lain, pihak pemerintah bersama lembaga terkait sebenarnya telah berupaya mendorong peningkatan literasi digital. Program pelatihan penggunaan media sosial secara sehat terus digalakkan, terutama kepada generasi muda yang menjadi pengguna terbesar platform digital.
Namun, upaya ini belum sepenuhnya membuahkan hasil. Konten yang edukatif dan bermanfaat sering kali tenggelam, sementara konten negatif lebih cepat menyebar karena dianggap lebih menarik oleh algoritma platform dan sebagian pengguna.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih selektif dalam mengonsumsi dan membagikan informasi. “Jangan sampai kita ikut menyebarkan konten negatif, karena secara tidak langsung kita menjadi bagian dari masalah,” tambah pengamat tersebut.
Para content creator diharapkan mulai mengubah pola pikir, dengan menghadirkan karya yang bukan hanya mengejar viral, tetapi juga memberi nilai tambah. Kreativitas yang menginspirasi, edukasi yang membangun, serta hiburan yang sehat, bisa menjadi pilihan agar media sosial lebih bermanfaat bagi semua kalangan.

Social Header